Minggu, 22 Juli 2018

ANDAI KITA PAHAM APA ITU PERSEPSI

"Penyesalan terbesar sepanjang hidup kita adalah ketika kita tak pernah mau berusaha untuk mencuba memulai melakukan sesuatu"
~
Anonimous

Persepsi adalah untuk menafsirkan informasi agar terbangun gambaran pemahaman akan sesuatu. Mari ambil contoh dari kejadian sehari-hari: semisal ketika akan memulai bisnis, lajimnya kita berupaya mewujudkannya dengan menggali informasi terkait, berusaha mencari seseorang yang tahu bisnis itu.


Bisnis Modern:
Katakanlah, kita hendak berbisnis “coffee-shop” khusus untuk anak-anak muda nongkrong seharian sembari beraktivitas. Kita akan berusaha mengumpulkan informasi bahkan mencari orang yang mumpuni dibisnis itu. Menemuinya berharap diberi masukan tentang banyak hal, bagaimana perijinannya, bagaimana tatanan perabotan-peralatan serta material yang diperlukan, bagaimana mengelola karyawan dan seterusnya. Pebisnis berpengalaman umumnya suka memberi pencerahan tentang konsep sesuatu bisnis, dan bahkan mungkin kita akan didorong agar segera buka - mulai saja!

Berbeda jika bertanya ke seseorang yang bukan pebisnis, kita akan dijejali informasi yang cenderung negatif, yang menurutnya melekat pada sifat bisnis “coffee-shop” itu. Bahkan disarankan agar kita menjauhi dan menawarkan bidang bisnis lain yang dia nilai lebih baik. Mengambil contoh dari seseorang yang dia kenal dan dia nilai sukses.

Dua sudut pandang yang bertolak belakang!

Jika kemudian kita pergi ke orang satu lainnya, kita mungkin akan mendapat informasi lain lagi. Bisa malah mengendurkan semangat atau mungkin malah diberi penjelasan lebih detil tentang bisnis “coffee-shop” atau mungkin malah ditawari lokasi yang dinilai cocok.

Semakin banyak bertanya, kian banyak penjelasan yang diperoleh dan tiap satu daripadanya bisa menambah informasi atau mengaburkan rencana dan menjadi tak jelas.

Jika kita terpengaruh, kita mungkin akan mengubah-ubah lagi rencana semula dan mengubahnya lagi dan tetap saja masih sebuah rencana. Tak pernah wujud. Atau malah tergiur tawaran bisnis lain atau bekerjasama di bisnis yang berbeda.

Rencana segera terlupa jika semua lancar, tetapi kala mandeg, sesal - kenapa dulu tergiur? Beragam persepsi berjejalan muncul menambah daftar alasan, gagal kian menyesak. 

Sesal menyesal kenapa dulu nanya mulu?

Bisnis Tradisionil:
Mari lihat contoh berikutnya! Kita mungkin dengar tukang sayur keliling pagi-pagi teriak mendorong gerobak sayurnya. Saban hari keluar masuk RT-RW, setiap ibu-ibu umumnya dia kenal. Yang kontan hingga rajin ngutang tak pandang bulu dilayani baik. RT-RW bahkan serasa sepi jika dia tak muncul.

Sayurrr,,,,bu,,,u! tak bosan teriak, hari libur atau bukan, bahkan hari kejepit nasional pun tak dia pedulikan. Teriak terus dan setiap hari begitu. Ragam sayur-mayur, telur, paha dada sayap, kerupuk, bawang serta rupa ragam pernik-pernik dapur dia beli di Pasar Induk malam sebelumnya. Subuh dirapikan, pagi beredar keliling hingga menjelang tengah hari. Untung entah rugi, terus dilakoni. Ibadah menjemput rezeki.

Jika kita bertanya ke Pakar yang benar-benar berpikir, model bisnis tukang sayur keliling akan diberi acungan jempol. Semangat dan motivasinya katanya tak bakal bisa tertandingi. Salut, karena mereka benar-benar tahu jika si tukang sayur keliling itu tengah bermain di skala bisnis spekulasi tingkat tinggi dengan pangsa pasar yang sempit. Model bisnis seperti itu harus tahan banting.

Berbeda jika kita bertanya ke orang yang mengaku-ngaku Pakar. Model usaha si tukang sayur keliling akan ditanggapi sinis, bahwa model seperti itu tak layak dia tanggapi, itu bukan bisnis! Lancar alasan mancut keluar: dari skala pasar, modal yang ditanamkan dan seterusnya. Itu tak perlu di evaluasi, tak perlu dianalisa, untung dan ruginya pun jika dikalkulasi cukup pakai jari. Kesimpulannya, model seperti itu tak punya prospek, itu bukan bisnis bernilai!

Ada dua sudut pandang dari berbagai sudut yang bertolak belakang!

Jika nara sumber diperluas, akan kita temukan tanggapan yang cenderung lebih didasari pada prinsip suka atau tidak suka. Maka tak perlu lelah, itulah persepsi dari sudut yang berbeda, dan itu realitas.

Kata Latin persepsi adalah: ‘perceptio’ atau ‘percipio’ lajimnya digunakan untuk suatu tindakan menyusun mengenali dan menafsirkan informasi sensoris untuk mendapatkan pemahaman.

Karenanya, ada beragam persepsi mewarnai hidup dan tiap satu daripadanya bahkan bisa merubah ragam persepsi yang semula kita miliki, dan tiada henti kita terus belajar membangun pemahaman tentangnya.

Karena kita terlahir adalah untuk belajar dan terus belajar
agar kita tetap diperlukan mewarnai kehidupan ini.

~salam persepsi selalu!
"The common conception is that motivation leads to action, but the reverse is true - action precedes motivation. You have to 'prime the pump' and get the juices flowing, which motivates you to work on your goals. Getting momentum going is the most difficult part of the job, and often taking the first step...is enough to prompt you to make the best of your day."
~Robert J. McKain

NGRQ Collections