Rabu, 18 Juli 2018

ANDAI KITA PAHAM APA ITU PERSFEKTIF

"Do not wait; the time will never be 'just right.' Start where you stand, and work with whatever tools you may have at your command, and better tools will be found as you go along."
~Napoleon Hill

Tiap kita pasti pernah menghadapi suatu situasi yang terkadang kita tak mampu menjelaskan detilnya - tetapi itu terjadi, dan itu apa? Ntahlah, tergantung telur masing-masing!

Terkadang kita terpukau oleh kata-kata seolah benar-benar dirangkai untuk menampar kehebatan rasa kagum akan keakuan diri kita, dan kita tak siap mengakui. Seolah berubah menjadi kerdil kita bahkan tak mampu mendengar kelanjutannya, tetapi tak kuasa membantah pun membenarkannya. Mungkin kita malah memilih diam, termenung merenungkan.

Tiap kita pernah didera rasa takut yang begitu menakutkan, dan tiap orang yang kita kenal kita mintai bantuannya, umumnya tiap satu daripadanya akan menanggapi dan nyaris senada:
“tak usah takut, tak ada yang perlu ditakutkan, hal-hal semacam itu tak perlu ditakutkan”!
Ada juga yang berkata: “Oh itu wajar, tak apa-apa itu, itu bahkan perlu agar kita lebih berhati-hati, waspada, dan jangan lengah”!
Yang satu melarang jangan takut tetapi, satu lainnya berkata, itu perlu. Keduanya pastilah betul!

Mungkin kita juga kerap mendengar kalimat berikut:

"In the middle of difficulty lies opportunity."

~
Albert Einstein
Terpana tak bisa membantah pun meng-Iya-kan nya. Dalam hati kita balik bertanya:
“Kesempatan apa dulu? Kesulitan yang bagaimana dulu?.” Kita tak menafikan tetapi menyadari bahwa langkah kita akan sangat tergantung pada tingkat kesulitan permasalahan yang tengah dihadapi. Semisal, kala tak punya uang kita diam terpaku tak bisa berbuat sesuatu apa. Hilang minat tak tahu hendak apa! Nelangsa, kesempatan apa jika takada uang?

Tetapi, ketika kita tahu seorang teman tak punya uang, dia malah terbahak mentertawakan dirinya. Katanya:
“tega nian itu si uang tak mau sangkut berlama-lama dikantung saya, kaya bukan teman saja, mungkin karena selama ini saya tak cukup baik memperlakukannya”. Aneh!

Barangkali kita pernah tahu untaian kalimat indah berikut:

"
Jangan menasihati orang bodoh karena dia akan membencimu. Nasihatilah orang yang berakal karena dia akan mencintaimu."
~Ali bin Abi Thalib

Merenung, apa gerangan maknanya? Jauh dilubuk hati ada berontak tanya: “
Bagaimana kita tahu kalau seseorang itu adalah bodoh? atau berakal kah dia?” Sulit mengetahuinya. Tetapi, sejarah mencatat dunia ini sudah beribu abad lamanya dipenuhi kebodohan? Konon katanya, tak sampai lima persen yang bisa dikategorikan sebagai orang-orang yang berakal.

Jika begitu, akankah kita berhenti menasehati? Yang pasti kalimat diatas itu, itu adalah nasehat terindah untuk kita cermati, hingga tak guna menjadi marah jika seseorang menjadi benci setelah kita menasehatinya. Mungkinkah!

Ada berjuta ragam persfektif bertumbuh mewarnai perjalanan hidup kita, dan tiap satu daripadanya kian memperkaya ragam persfektif kita.

Sejatinya, kita terlahir adalah untuk terus belajar karena b
elajar menjadi satu-satunya cara yang dipersyaratkan agar kita tetap diperlukan oleh kehidupan ini.

~salam persfektif selalu!

"The person who goes farthest is generally the one who is willing to do and dare. The sure-thing boat never gets far from shore."

~Dale Carnegie

Join-my-SFI-team

Terbaru

ANDAI KITA PAHAM MAKNA KATA LUAR BIASA TAKUT

“ Perseverance is the hard work you do after you get tired of doing the hard work you already did.” ~Newt Gingrich Akhirnya Anda telah ...