Selasa, 26 Juni 2018

ANDAI KITA PAHAM ARTI PERILAKU NEGATIF

“We think too much and feel too little. More than machinery, we need humanity. More than cleverness, we need kindness and gentleness”
~Charlie Chaplin

Tiap kita pasti pernah jengkel, sakit atau mengalami suasana hati yang tidak baik, beberapa bahkan mungkin merasa tengah berada di neraka. Ada yang mendasarkan penilaiannya karena situasi keuangan yang kronis, ada karena pekerjaan yang tidak menjanjikan perkembangan karir, ada juga yang merasa kehidupannya serasa kian jauh dari yang dicita-citakan. Ada banyak hal yang bisa mempengaruhi. 

Meski banyak yang tak mengakuinya tetapi pernah merasakannya. Ada yang pintar menyembunyikannya, ada yang malah ekstrim hingga benci ketiap orang hingga berlaku tidak senonoh terhadap dirinya. Berkata kasar ke tiap orang hingga berusaha mencilakakan dirinya, bahkan malah menggugat sang Maha Kuasa.

Jika disimak lebih mendalam, penyebab utama diduga berawal dari penyangkalan atas diri serta perilaku sendiri dalam mengharungi hidup.

Beberapa yang dianggap menjadi sumber petaka:

DEMI HARGA DIRI:
Sulit jika tiap hal didasarkan pada harga diri. Hingga malu meminta bantuan orang, hingga minus rasa hormat kepada orang lain, hingga hanya percaya pada kekuatan diri sendiri, hingga hanya bersedia mengikuti naluri sendiri. Seiring waktu perilaku seperti itu akan menjadi bumerang dan kita akan dijauhi oleh orang-orang.

Kita harus belajar menerima diri kita sepenuhnya. Baik atau buruk itu adalah diri kita, dan apa yang kita perbuat dalam hidup bukan karena keinginan orang lain. Jika ingin merubah diri, lakukanlah itu karena terdorong oleh keinginan sendiri, bukan karena berpikir agar supaya orang lain menilai diri kita telah berubah menjadi terbaik.

Kita tidak sepatutnya meletakkan harga diri kita melebihi langit-langit kamar tidur kita. Tidak sepatutnya kita bertindak berlebihan berketergantungan pada ketetapan sesat bahwa betapa diri kita sangat penting. Belajarlah mencintai diri sendiri secara benar, menghargainya secara wajar agar orang lain bisa memperlakukan kita secara wajar.

Maka mulailah dari diri kita sendiri. Janganlah berlebihan.

DEMI DENDAM MASA LALU:
Kita kerap bersikap melankolis untuk hal-hal yang menyesatkan. Entah untuk alasan apa, kita kerap menyimpan dendam hingga sulit untuk menemukan kedamaian hidup. Seyogianya kita lepaskan rasa kebencian dan hal-hal yang mengganjal pikiran. Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan mengurusi hal-hal negatif, merawat kepahitan-kepahitan yang kita pernah alami.

Jika pun itu adalah kesalahan fatal orang-orang, tak lah patut kita berlelah-lelah menghabiskan waktu untuk mendaftarkan kesalahan orang-orang itu ketiap pelosok penjuru dunia. Melepaskannya akan membuat hidup lebih indah, lebih ringan serta mewarnainya dengan berbagai keindahan.

Hidup itu indah, tak patut untuk dirusak dengan kenangan-kenangan pahit seolah tiap orang yang pernah bersalah malah berhutang pengampunan ke kita.

Belajarlah menerima masa lalu, melepaskannya untuk menjadi pendorong yang memberdayakan kita mencurahkan kantong-kantong pengampunan ke orang-orang yang pernah menyakiti.

Bergegaslah. Mulailah sedari dini.

TERPERANGKAP RUTINITAS:
Kita terbiasa melakoni hidup mengikutkan kebiasaan sehari-hari, kita lupa bahwa bukan hanya itu cara mengisi hidup. Tersadar ketika menjelang usia pensiun, kala vitalitas kian melemah, kemampuan produktif menurun seiring usia. Kesempatan kala muda serasa menghilang seiring waktu. Menyesal terpenjara oleh rutinitas sehari-hari, kehilangan waktu seolah menggerogoti perasaan sisa usia.

Seyogianya usia tua dianggap sudah meliwati zona kenyamanan hidup hingga tak lagi perlu berpikir secara rutinitas. Akan lebih bersahaja untuk mencari sesuatu yang baru. Usia tidak patut untuk dijadikan penghalang menggali pengalaman baru. Kita hanya perlu peluang, menjalankannya dan memanfaatkannya. Walau itu hanya untuk waktu singkat itu lebih berarti daripada tidak sama sekali.

Ada banyak yang bisa dilakukan tanpa harus terbebani akan usia. Hidup itu bersahaja, tak patut untuk dirusak dengan pikiran takut tak berdasar. Kelak sejarah mencatat bahwa kita telah melakukan sesuatu. Karena ada banyak hal besar yang sukses dilakukan oleh orang-orang di usia senja.

Jangan biarkan rasa takut menghentikan langkah menyalurkan unsur kebajikan. Jangan biarkan perangkap rutinitas membuat pikiran menjadi rentan membuat hati terluka. Kreatifitas bisa memacu rasa empati dan menghadirkan seluruh unsur kebajikan dalam hidup kehidupan kita.

TERPENJARA ALAM KESENDIRIAN:
Terkadang kita sendiri yang menghalangi langkah untuk mengenal lingkungan. Tanpa sadar membangun tembok pemisah agar tidak perlu bertegur sapa, hingga orang lain pun menjadi enggan untuk bersisian. Seolah berupaya menghindari orang-orang demi mencari ketenangan, sunyi di alam kesendiriannya.

Sebaliknya, disudut lain, ada yang malah memaksakan diri untuk bergaul walau orang-orang di lingkungan itu tidak mengharapkannya, beberapa malah menghindarinya. Ini adalah situasi demi menghindari perasaan sunyi karena alam kesendirian.

Mencari ketenangan didalam kesunyian diri adalah normal, sama normalnya dengan memaksakan diri bergaul dengan siapa saja dilingkungannya daripada terperangkap dalam perasaan sunyi oleh kesendirian yang mencekam.

Ibarat candu, menghindari pergaulan hanya akan merusak diri. Kita seolah menentang pemahaman bahwa kita punya kebutuhan untuk diakui - bahwa kita eksis.

Menghindari pergaulan dengan cara menenggelamkan diri dengan alkohol, atau menonton semua siaran televisi atau surfing internet adalah cara semu agar kita teralihkan dari lingkungan sekitar. Kita terbantu hingga batas waktu tertentu, tetapi akan terpenjara dalam alam kesendirian. Rasa sunyi akan meracuni hari-hari kita.

Sejatinya, kita terlahir tidak untuk hidup sendiri!

Belajarlah mengisi keseharian dengan tindakan efektif bahkan jika itu disaat-saat sulit sekalipun, yakinlah bahwa itu menuju titik kebahagiaan.

Belajar menjadi satu-satunya cara yang dipersyaratkan untuk kita bisa mengisi hidup agar tetap diperlukan dalam kehidupan ini.

~salam positif selalu!


"There's no feeling quite like the one you get when you get the truth: You're the captain of the ship called you. You're setting the course, the speed and you're out there on the bridge, steering."
~Carl Frederick

Terbaru

ANDAI KITA PAHAM MAKNA KATA SELFISH

“ Success on any major scale requires you to accept responsibility...In the final analysis, the one quality that all successful people hav...